Senin, 22 April 2013

Lebih dari sekedar cantik

Menjadi duta adalah sebuah kebanggaan.
Mewakili organisasi, institusi, daerah, dan bahkan negara. Duta selalu punya misi, ada aspirasi yang diperjuangkan, dan sebagai salah satu bagian yang dapat mengubah citra. Ada banyak sebutan duta kali ini, duta besar, ambassador,dan yang perlu menjadi perhatian kali ini ; Putri.

Ya, putri. Dengan berbagai embel-embel dibelakangnya yang mengikuti. Putri daerah, putri Indonesia, miss world, putri mawar, putri mutiara, putri roti, dan masih banyak putri-putri lainnya. Tentu saja putri-putri ini didapatkan dari beberapa tahap seleksi, ada kriteria yang ditetapkan, dan yang berhak mendapatkan mahkota adalah dia yang telah berhasil melewati tahapan seleksi dan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.

Biasanya, dalam tahap kriteria penilaian setidaknya ada 3 kriteria :
1. Beauty (Kecantikan)
2. Brain (Kecerdasan)
3. Behavior (Kepribadian)
Beauty, para putri ini tentunya harus menarik perhatian khalayak agar didengar. Brain, agar punya pegangan dalam berbicara dan berdiplomasi. Behavior, kepribadian yang akan mencerminkan lingkungan dimana ia dibentuk.

Tapi coba kita perhatikan lebih jeli lagi, pada dasarnya yang ditekankan dalam ajang pencarian putri ini adalah Beauty (kecantikan) nya saja. Dalam hal ini, outer beauty. Kecantikan yang dinilai dari fisik semata.

Dan yang lebih miris lagi, saat ini kita terkungkung dalam standarisasi kata cantik. Akibat penjajahan bangsa Eropa, cantik dinilai dengan berkulit putih, berhidung mancung, dan berbadan tinggi. Tapi beberapa bulan ini kiblat cantik itu bergeser, bermata sipit, berkulit putih susu, berambut coklat yang didandani aneh-aneh, akibat penjajahan budaya K-Pop. Bangsa ini seolah sudah kehilangan jati dirinya dalam menilai dirinya sendiri.

Maka yang terpilih menjadi putri pasti memiliki salah satu dari dua standar tersebut.

Ke mana brain dan behavior-nya?
Yang pro tentu mengatakan bahwa kedua hal tersebut tetap ada, buktinya dengan adanya sesi pertanyaan yang tentu saja dimaksudkan untuk menguji skill calon putri tersebut.

Tapi coba perhatikan lagi. Lebih banyak mana, sesi pertanyaan dari panelis atau sesi mereka berlenggak-lenggok di catwalk membawakan busana rancangan berharga jutaan?

Selain itu, coba perhatikan pertanyaan di saat putaran terakhir, ketika jumlah peserta sudah menciut menjadi tiga besar. Pertanyaan seperti apa yang menentukan terpilihnya seseorang untuk mendapat gelar putri.

Selain gelar putri utama yang diperebutkan,
Pada malam penghargaan pasti akan diberikan pula award terhadap putri-putri lainnya. Putri persahabatan, putri lingkungan, putri C, putri D, dan lain sebagainya. Apakah tujuan dari pemberian gelar tersebut sebenarnya, dan relevankah tiga aspek utama penilaian tadi sebagai penentunya.

Putri persahabatan, apakah perempuan paling bersahabat?
Putri lingkungan, apakah perempuan paling peduli terhadap lingkungannya?
Dan putri yang menjadi wakil di ajang berikutnya, apakah ia mewakili keadaan bangsa?

Belum tentu.
Dan setelah satu tahun menjadi duta, apa yang ditinggalkan oleh putri-putri ini dan apa yang bisa dilakukan setelahnya. Kebanyakan menjadi bintang televisi atau jika beruntung digaet partai politik, nyamanlah ia duduk di senayan saat ini. terbukti, ajang-ajang seperti itu dimanfaatkan sebagai batu loncatan saja, bukan untuk berbuat di satu tahun masa ia bertahta.

Untuk menjadi duta, dalam hal ini putri, tanpa melalui ajang pencarian seperti itu.

Putri persahabatan, cukup dengan selalu mendengarkan penuh perhatian curahan hati seorang sahabat, maka tak perlu bertinggi 170 cm, mahkota persahabatan akan diperoleh.

Putri lingkungan, cukup dengan lebih sering berjalan kaki dibanding bermobil ria, menyimpan sampah dalam tas ransel, maka gelar pejuang lingkungan pun tersemat.

Dalam mewakili bangsa tentunya, jika putri yang lain hanya menunjukkan menari dan menyanyi, maka cukup dengan tinta emas, tunjukkan bangsa ini bangsa yang intelek dan berpendidikan. 

Menjadi putri, apapun gelar di belakangnya, tak perlu tiara yang menegaskan gelar. Tak perlu selempang yang menunjukkan tahun menjabat gelar itu. Tak perlu berpenampilan ala seorang putri, bersepatu hak tinggi, bergaun indah saat menyambangi anak-anak panti asuhan berbaju usang.

penampilan memang penting,
Setidaknya sebagai kesan pertama, tetapi bukan yang utama.

Ketegasan berbicara, wibawa ketika berucap, kepedulian, empati, dan kesadaran merupakan hal yang lebih penting dalam menjadi seorang putri dalam masyarakat. Tak perlu tinggi menjulang, wajah mulus tanpa cacat. Dan yang lebih tak perlu lagi yaitu memamerkan diri berlenggak-lenggok di panggung yang tujuannya tak jelas untuk apa.

Karena kau lebih dari sekedar cantik.

Biarlah kecantikan itu keluar dari goresan pena yang mampu membuat orang-orang terbawa berair mata atau terbakar semangatnya, lebih dari make up tebal yang justru menjadi topeng.

Biarlah ketulusan hati ketika menyambangi mereka yang kurang beruntung, yang akan menjadi perhiasannya, lebih indah dari berlian dan mutiara.

Meski tertutup auratmu dari pandangan, perhatian tetap tertuju padamu, Karena kau lebih dari sekedar cantik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar